Kerja keras adalah energi kita. Banyak dari kita yang menyadari bahwa minyak bumi dan gas alam yang sangat berlimpah di negeri ini merupakan energi yang tak terbarukan, atau setidaknya butuh waktu sangat-sangat-sangat lama untuk bisa memperoleh kembali bahan mentah energi tersebut. Suatu saat, kita akan kehabisan sumber energi tersebut.

kerja keras adalah energi kitaSaya yakin, banyak dari kita yang menyadari bahwa potensi diri manusia semestinya menjadi sumber daya andalan untuk membangun negeri ini. Bukan pada tempatnya lagi untuk menggantungkan diri pada sumber daya alam yang relatif tak terbarukan. Ada beberapa contoh negara yang wilayahnya minim kekayaan alam namun negara tersebut mampu menjadi negara maju dan makmur dimana mayoritas warga masyarakat mereka dapat hidup sejahtera.

Saya juga yakin, kerja keras adalah kunci untuk membangun potensi diri menjadi lebih baik. Kerja keras adalah energi kita, energi yang menggerakkan manusia mencapai hasratnya. Tanpa kerja keras, hasrat hanya akan menjadi lamunan. Tanpa kerja keras akan sulit mencapai cita-cita secara optimal. Semangat untuk bekerja keras itu harus datang dari dalam diri kita. Semangat itu harus kita kelola, dan semangat itu harus pula disalurkan secara tepat. Kerja keras adalah energi kita.

Energi Pertamina
Etos kerja keras dapat pula kita lihat di Pertamina, salah satu Badan Usaha Milik Negara terkemuka di Indonesia. Terbukti, BUMN yang pada 10 Desember tahun ini akan memperingati ulang tahunnya ke-52 itu selalu mampu memberikan keuntungan bagi negara, baik melalui laba bersih perusahaan, setoran pajak maupun aktivitas corporate sosial responsibility yang dilakukannya. Tanpa kerja keras, tidak mungkin perusahaan yang mengelola sumber energi itu dapat terus tumbuh secara sehat. Tepat memang bila Pertamina kini memperkenalkan slogan Kerja keras adalah energi kita, energi Pertamina, dan energi masyarakat Indonesia!

Tetapi memang, tumbuh saja tidak lagi cukup saat ini. Era globalisasi telah memaksa perusahaan-perusahaan di Indonesia, dan juga di negara lain, untuk tidak sekadar membandingkan pertumbuhan mereka dengan perusahaan di negaranya saja. Pertamina tidak bisa lagi sekadar membanggakan dirinya yang kerap berada di tempat tertinggi dalam kualitas pengelolaan perusahaan negeri ini, namun harus juga bersedia diperbandingkan dengan perusahaan sejenis dari negara lain. Pada titik itu, harus kita akui, Pertamina perlu kerja lebih keras lagi mengejar ketertinggalan yang ada.

Kuncinya tentu bukan dengan mengandalkan sumber daya alam yang ada semata, tetapi lebih pada bagaimana meningkatkan potensi sumber daya manusia yang ada di Pertamina sehingga pengelolaan yang dilakukan bisa lebih efisien dan efektif. Terus tumbuhkan semangat kerja keras serta kemampuan kerja cerdas untuk mewujudkan visi menjadi perusahaan kelas dunia, serta tentu saja mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih sejahtera.

Tulisan terkait

  • Belum ada tulisan terkait